Rumah Faye

rumah faye
merupakan bagian dari

EnglishIndonesia

Perdagangan Anak di Indonesia

Penelitian ILO-IPEC tahun 2003 di Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Jawa Timur, Jakarta, dan Jawa Barat memperkuat bahwa trafiking di Indonesia merupakan masalah yang sangat kompleks karena juga diperluas oleh faktor ekonomi dan sosial budaya.

Kualitas hidup miskin di daerah pedesaan dan desakan kuat untuk bergaya hidup materialistik membuat anak dan orang tua rentan dieksplotasi oleh trafiker. Disamping diskriminasi terhadap anak perempuan, seperti kawin muda, nilai keperawanan, pandangan anak gadis tidak perlu pendidikan tinggi menjadi kunci faktor pendorong. Anak-anak yang ditrafiking bekerja dengan jam kerja relatif panjang dan rawan kekerasan fisik, mental, dan seksual. Mereka tidak mempunyai dukungan atau perlindungan minimal dari pihak luar. Kesehatan mereka juga terancam oleh infeksi seksual, perdagangan alkohol dan obat-obatan terlarang.

Dengan berbagai cara yang terus berkembang, jaringan penjualan anak-anak terus meningkat. Bahkan, jumlah korbannya kian bertambah setiap tahun. Di wilayah Asia Tenggara, Indonesia menempati posisi ketiga terbesar dalam perdagangan anak internasional. Sementara, Kamboja dan Vietnam menempati urutan pertama dan kedua. Data ini didapat dari Child Wise Tourism, Australia pada tahun 2007. Sepuluh tahun sebelumnya, posisi teratas perdagangan anak ditempati Thailand, diikuti Filipina dan Vietnam. Namun, pemerintah Thailand dan Filipina cepat tanggap dan berupaya keras menekan perkembangan kasus ini. Hasilnya, posisi mereka pun tergantikan.

Pemerhati anak dan Ketua Dewan Pembina Komnas Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), Dr Seto Mulyadi mengatakan, posisi ketiga itu menjadi bukti bahwa Indonesia sudah menjadi salah satu sumber `pasokan’ di Asia Tenggara untuk perdagangan anak. Bentuk operasi dan modusnya pun berbagai macam. “Setiap tahun, 150.000 anak di Indonesia diperdagangkan untuk tujuan seksual. Mereka dilacurkan, dijadikan objek pornografi, dieksploitasi seksual di daerah pariwisata, dan dinikahkan dini oleh orang tuanya. Lima tahun lalu jumlah anak-anak di bawah usia 18 tahun yang mengalami eksploitasi seksual sekitar 30 persen. Sekarang, jumlahnya meningkat jadi 60 persen dari keseluruhan pekerja seks di Indonesia,” jelas pria yang akrab disapa Kak Seto ini.

Eksploitasi seksual anak merupakan tujuan terbesar dalam perdagangan anak di Indonesia. Tujuan berikutnya adalah kerja paksa, bekerja di tempat-tempat berbahaya, dan perdagangan organ tubuh. Kajian cepat yang barn dilakukan ILO - IPEC pada tahun 2003 memperkirakan jumlah pekerja seks komersial di bawah 18 tahun sekitar 1.244 anak di Jakarta, Bandung 2.511 anak, Yogyakarta 520 anak, Surabaya 4.990 anak, dan Semarang 1.623 anak. Namun, jumlah ini dapat menjadi beberapa kali lipat lebih besar mengingat banyaknya pekerja seks komersial bekerja di tempat-tempat tersembunyi, ilegal, dan tidak terdata. Data yang ada memperlihatkan daerah-daerah pemasok anak-anak untuk kegiatan pelacuran meliputi Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat, Lampung, Sumatera Barat, Sumatera Utara, Kalimantan Barat, Sulawesi Utara, dan Sulawesi Tenggara. Sementara daerah-daerah penerimanya terutama Jakarta, Bandung, Surabaya, Denpasar, Medan, Riau, Batam, Ambon, Manado, Makassar, dan Jayapura. Beberapa di antaranya bahkan diperdagangkan ke luar negeri, seperti Singapura, Malaysia, Taiwan, dan Jepang.